Jumat, 13 Maret 2009

Seminar Indonesia Perlu Jalan Ekonomi Baru

Seminar ini diadakan pada tanggal 2 maret 2009 di gedung UC  (university club/center) UGM. Para pembicara adalah dari tim INDONESIA BANGKIT, yang terdiri dari para pakar ekonom dari berbagai universitas. Seminar ini cukup menarik minat masyarakat. Memang benar kita membutuhkan sesuatu yang baru yang lebih baik namun bagaimana caranya dan langkah apa yang mesti kita perbuat?

Pembicara pertama datang dari Institut Pertanian Bogor, pak Imam Sugema. Dia mengatakan bahwa ekonomi Indonesia berkembang atau tumbuh dikarenakan utang. Pemerintah Indonesia kurang dalam pemanfaatan SDA. Banyaknya SDA kita yang masih dikuasai oleh pihak asing adalah sesuatu bukti bahwa pihak pemerintah masih kurang dalam memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Kenapa bila pihak asing yang mengelolah menyebabkan pihak local menderita? Hal ini dikarenakan hasil yang melimpah dari SDA tadi banyak digunakan bagi pihak asing jadi intinya hasil yang didapat pihak asing atas SDA kita lebih banyak dari pada hasil yang kita terima. Ini merupakan penjajahan masa modern yang timbul dari ketidakkompetenan pemerintah dalam mengelolah SDA Indonesia. Fakta mengatakan utang perkapita Indonesia meningkat. Indonesia salah dalam kebijakan ekspor bahan tambang yaitu, GAS dan batu bara. Ekspor GAS dan batu bara ini terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kelangkaan pada pasar domestic. Kayu rotan diekspor habis oleh pemerintah sehingga banyak pengrajin rotan diIndonesia gulung karpet (gulung karpet lebih berdampak sosial yang lebih parah dari gulung tikar, karena karpet lebih mahal dari tikar, pen). Industry diIndonesia masih menggunakan bahan bakar minyak dalam kegiatan operasinya sedangkan Negara maju sudah menggunakan GAS dan batu bara yang lebih murah dari BBM hal ini menyebabkan Indonesia mengalami kekalahan kompetitif.

Seminar kemudian dilanjutkan dengan pembicara dari institusi yang sama, Nunung Nuryatono. Bapak ini membahas kembali kegagalan (krisis) yang dialami oleh Negara yang diakibatkan oleh resesi dinegara maju. Dia menjelaskan ada tiga tahapan krisis: trigger, crash, propagation. Krisis yang dialami Indonesia sekarang berbeda dengan krisis terdahulu. Dulu krisis hanya menyerang perkotaan. Sekarang krisis dialami kota dan desa. Bahkan desa lebih dahulu terhantam krisis lalu perkotaan. Beban krisis didesa yaitu:



  • Penurunan harga yang diterima petani

  • Penurunan permintaan ekspor

  • Petani memutuskan untuk tidak memelihara kebun


Kemudian seminar dilanjutkan oleh tuan rumah (UGM) dengan pembicara, Ibu Hendri Saparini. Beliau mengatakan paradigma pemerintah perlu diganti. Sementara bapak Revrisond Baswir,berusaha memperkenalkan kembali sistem ekonomi rakyat yang berdasarkan pancasila dan bangun dari perusahaan itu adalah koperasi.

Menurut pendapat penulis solusi-solusi yang dibicarakan diseminar ini memang perlu dicermati. Namun tidak ada satu pun dari pembicara yang mengambil sistem ekonomi syariah sebagai salah satu alternative solusi. Ternyata mereka masih mempercayakan buatan manusia daripada sistem ciptaan Tuhan. Meskipun kita menerapakan demokrasi ekonomi namun masih saja yang haram dilakukan maka hal ini akan sia-sia. Wahai cendikiawan muslim marilah kita bersatu untuk keberhasilan, kemakmuran dan kesejaterahan masyarakat Indonesia umumnya dan Islam khususnya.

Untuk kelengkapan materi seminar dapat menghungi email: satria.baja.islam@gmail.com

5 komentar:

  1. Blog yang sangat berat...

    saya tidak bisa banyak komentar...

    cba kau tulis tentang musik, gitu...
    aku pasti komenarin!!!

    BalasHapus
  2. artikel musik sedang dalam pengerjaan fan...

    aku berencana melakukan konser tunggal ntar di ESB.

    Doain sempat latihan.
    mengingat lagi banyak tugas nih.

    BalasHapus
  3. Artikel yang sungguh bermanfaat, menambah pengetahuan dan bisa saling berbagi.sukses selalu.

    BalasHapus
  4. Artikel yang cukup bermanfaat mas... Teeima kasih, semoga bisa menjadi referensi yang lainnya..

    BalasHapus